Apa Itu Baby Blues? Penyebab dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Baby Blues? Penyebab dan Cara Mengatasinya

Apa itu baby blues? Mengapa bisa terjadi baby blues pada ibu setelah melahirkan? Apakah ada seorang ibu yang tidak mengalami baby blues? Atau memang setiap ibu melahirkan mengalami baby blues? Daftar pertanyaan semacam ini tentu bisa diperpanjang lagi, tetapi pada dasarnya hampir setiap ibu mengalami baby blues, Mam.

Baby blues memang sering kali melanda ibu yang baru melahirkan, bahkan tidak peduli sebesar apa mama menantikannya atau seberapa besar mama mencintai si kecil. Kemunculannya ditandai dengan kurang tidur, mendapat tanggung jawab baru sebagai ibu, dan kurang waktu untuk diri sendiri, sehingga tak mengherankan banyak ibu baru ini seakan berada dalam gejolak emosional.

Faktanya, depresi ringan dan perubahan suasana hati sangat umum terjadi pada seorang ibu sehingga hal demikian biasa disebut dengan istilah "baby blues".

Baby Blues
Sumber gambar: Pixabay/yc0407206360

Mayoritas perempuan mengalami setidaknya beberapa gejala baby blues setelah melahirkan. Hal ini disebabkan perubahan hormon setelah melahirkan yang dikombinasikan dengan stres, kurang tidur, dan keletihan.

Mungkin pada fase ini mama mengalami kerapuhan secara emosional. Biasanya, baby blues ini mulai terjadi beberapa hari pertama setelah melahirkan hingga mencapai puncaknya sekitar satu minggu dan berakhir pada akhir minggu kedua.

Perlu mama ketahui bahwa baby blues adalah peristiwa yang normal, tetapi jika gejala tersebut tidak hilang setelah beberapa minggu atau semakin bertambah buruk, bisa jadi mama mengalami depresi setelah persalinan.

Penyebab umum baby blues

Sebenarnya tidak ada alsan tunggal mengapa beberapa ibu mengalami depresi setelah melahirkan dan ibu yang lain tidak. Akan tetapi, sejumlah penyebab dan faktor risiko yang saling berkaitan diyakini menjadi penyebab terbesar masalah tersebut seperti berikut ini.
  • Perubahan fisik. Melahirkan tentu membawa banyak perubahan fisik dan emosional. Masalah yang muncul adalah rasa sakit fisik setelah persalinan atau kesulitan menurunkan berat badan. Pada sisi lain timbul rasa tidak nyaman pada fisik mama.
  • Perubahan hormon. Setelah persalinan, wanita akan mengalami penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Selain itu, kelenjar tiroid juga turun sehingga menimbulkan depresi dan kelelahan. Perubahan hormon yang cepat ini--bersamaan dengan perubahan tekanan darah, sistem kekebalan tubuh, dan metabolisme--memicu depresi setelah melahirkan.
  • Stres. Stres yang dialami ketika merawat bayi juga dapat berakibat buruk pada ibu baru. Pasalnya, ibu baru sering kurang tidur, kewalahan, dan rasa khawatir dalam merawat bayi. Penyesuaian ini sangat sulit dijalani seorang ibu baru yang mau tak mau harus terbiasa dengan situasi seperti ini.

Faktor risiko lain penyebab baby blues

Selain tiga hal penyebab baby blues di atas, ada faktor lain yang dapat menyebabkan depresi setelah persalinan, di antaranya:
  • Riwayat depresi setelah melahirkan yang dapat dilihat dari persalinan sebelumnya. Hal ini dapat meningkatkan peluang depresi berulang hingga 30-50%
  • Riwayat depresi yang tidak berkaitan dengan kehamilan atau riwayat gangguan yang berasal dari faktor internal keluarga
  • Faktor stres sosial, seperti kurangnya dukungan emosional, hubungan yang tak sehat dengan suami, dan ketidakpastian keuangan.

Waspadai gejala psikosis postpartum

Psikosis postpartum (postpartum psychosis) adalah kelainan yang jarang terjadi dan kalaupun terjadi ini adalah masalah yang serius pasca-persalinan. Gejala psikosis postpartum ditandai dnegan kehilangan kontak dengan kenyataan. Risiko terbesarnya adalah bunuh diri/membunuh bayinya. Biasanya pasien yang mengalami kelainan ini harus dirawat inap agar ibu dan si bayi tetap aman.

Psikosis postpartum dapat terjadi secara tiba-tiba dan umumnya dalam rentang dua minggu pertama setelah melahirkan. Bahkan terkadang bisa terjadi dalam 48 jam. Gejalanya antara lain:
  • Mengalami kebingungan/disorientasi
  • Mengalami kecemasan ekstrem
  • Berperilaku aneh
  • Suasana hati berubah cepat
  • Delusi
  • Halusinasi
  • Tidak mau makan/tidur
  • Berpikir untuk melukai bayi
Dengan demikian, seorang ibu yang mengalami psikosis postpartum dianggap sebagai darurat medis yang membutuhkan perhatian dan penanganan cepat. Pendek kata, gejala psikologis ini lebih berat daripada baby blues.

Cara mengatasi baby blues

Mengatasi sindrom baby blues sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Namun tentunya setiap ibu mengalami kondisi yang berbeda dengan yang lainnya. Meski demikian, beberapa hal berikut ini umumnya dapat menjadi acuan dalam mengatasi baby blues.

Cara Mengatasi Baby Blues
Sumber gambar: Pixabay/marmaladelane

1. Menciptakan keterikatan emosional antara ibu dan bayi

Menjalin ikatan emosional antara ibu dan bayi adalah hal terpenting setelah persalinan. Keberhasilan ikatan emosional ini membuat seorang anak merasakan aman dan berpengaruh sepanjang hidupnya dalam cara berkomunikasi dan berinteraksi.

Keterikatan emosional yang berhasil terbentuk saat si ibu merespons bayi dengan hangat baik secara fisik maupun emosional. Misalnya, saat bayi menangis, ibu pun langsung menenangkannya. Begitu pun ketika bayi tertawa atau tersenyum, ibu dapat meresponsnya. Dengan kata lain, mama dan anak dapat berjalan selaras. Mama dan si kecil dapat saling mengenali dan merespons sinyal emosional satu sama lain.

Meski demikian, depresi yang terjadi setelah persalinan dapat mengganggu ikatan emosional ini, Mam. Pasalnya, seorang ibu yang depresi terkadang dapat mengasihi bayinya, tetapi pada waktu lain bisa bereaksi negatif atau tak merespons sama sekali. Itulah sebabnya, seorang ibu yang mengalami depresi lebih cenderung kurang baik berinteraksi dengan bayinya.

Untuk itu, seorang ibu harus selalu belajar mengukuhkan ikatan emosional dengan bayi. Pasalnya, hal tersebut dapat menguntungkan keduanya serta melepaskan endorfin yang membuat mama jadi bahagia dan percaya diri menjadi seorang ibu.

2. Dukungan dan bantuan dari orang lain

Sejatinya, manusia adalah makhluk sosial, Mam. Bahwa kontak sosial yang positif dapat mengurangi stres lebih cepat dan efisien ketimbang cara lainnya dalam mengurangi stres.

Baik secara historis maupun perspektif evolusi, seorang ibu yang baru melahirkan akan membutuhkan bantuan dari orang-orang sekitar. Namun sebaliknya di era sekarang ini banyak ditemui ibu-ibu baru yang kurang mendapatkan bantuan dan dukungan dari keluarga/orang sekitar. Mereka sering kali mengalami keletihan dan kesepian. Untuk menghindari hal tersebut, mama dapat menerapkan beberapa hal berikut:
  • Jangan memendam perasaan sendiri. Gunanya teman atau anggota keluarga adalah sebagai saluran emosional mama dalam mengungkapkan perasaan. Kehadiran mereka tetap penting untuk membagikan apa yang mama alami, termasuk hal baik dan buruk. Pada dasarnya, tidak masalah dengan siapa mama berbicara selama orang tersebut mau mendengarkan dengan tulus.
  • Membangun hubungan yang lebih baik. Ketika mama merasa tertekan dan rapuh, maka hal terpenting adalah tetap menjaga hubungan dengan keluarga dan sahabat. Dalam situasi ini, jangan pernah mengisolasi diri sendiri lantaran justru membuat situasi jadi lebih buruk, Mam. Biarkanlah orang yang mama cintai dan sayangi mengetahui apa yang mama butuhkan dan bagaimana dukungan tersebut diberikan.

3. Menjaga diri

Salah satu hal terbaik yang dapat mama lakukan untuk menghindari depresi setelah persalinan adalah menjaga diri sendiri. Semakin peduli merawat kesehatan mental dan fisik, maka perasaan mama akan semakin baik. Beberapa hal berikut mengenai perubahan gaya hidup ini bisa membantu mama kembali menjadi diri sendiri lagi.
  • Makanan sehat. Ketika mama mengalami depresi, perhatikan kualitas nutrisi makanan. Pasalnya, apa yang mama makan akan berdampak pada suasanan hati dan kualitas ASI. Jadi biasakanlah membangun kebiasaan makan yang sehat.
  • Sediakan waktu untuk diri sendiri. Sekali waktu mama perlu menyediakan waktu berkualitas untuk bersantai dan beristirahat dari tugas-tugas seorang ibu. Mama dapat menemukan cara-cara sederhana untuk memanjakan diri, seperti menikmati cokelat panas, menonton film, atau pijat refleksi.
  • Waktu tidur siang. Saat mama memiliki si kecil mungkin tidur selama delapan jam adalah suatu kemewahan yang mustahil terjadi. Namun kurang tidur juga akan membuat depresi semakin buruk. Untuk itu, mama dapat mensiasatinya dengan meminta bantuan pasangan/anggota keluarga, misalnya, untuk menjaga si kecil agar mama dapat menyediakan waktu untuk tidur siang.
  • Memulai kembali berolahraga. Dalam studi disebutkan bahwa berolahraga itu sama efektifnya dengan obat-obatan dalam menangani depresi. Jadi, semakin cepat mama memulai olahraga, maka semakin baik. Tak perlu ngoyo: cukup berjalan kaki 30 menit setiap hari.
  • Keluar rumah dan menikmati sinar matahari. Di pagi hari sempatkanlah untuk keluar rumah dan menikmati hangatnya matahari pagi selama 10-15 menit, Mam. Sinar matahari ini dapat membuat suasana hati mama jadi lebih positif.

4. Luangkan waktu untuk pasangan

Hubungan suami istri yang retak lebih banyak terjadi setelah kelahiran seorang anak, Mam. Bagi suami dan istri, hubungan mereka adalah sumber utama ekspresi emosional dan sosial. Karena itu, kehadiran seorang anak justru dapat menghalangi hubungan ini kecuali mereka mau meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk terus menjaga ikatan mereka. Ada beberapa hal berikut yang bisa mama jadikan acuan agar hubungan dengan suami tetap harmonis.
  • Komunikasi harus selalu lancar. Ada banyak hal yang berubah setelah kehadiran seorang anak, Mam, termasuk harapan dan peran suami-istri. Ada memang sejumlah pasangan yang meyakini sumber utama ketegangan ini adalah pembagian tanggung jawab rumah tangga dan perawatan anak. Karena itu, suami-istri harus membicarakan masalah penting ini secara terbuka, Mam. Jangan pernah mengabaikan hal ini dan belum tentu pasangan mengetahui apa yang dirasakan dan bagaimana isi hati mama.
  • Menjadi tim yang kompak. Menjadi seorang ibu baru tentu akan merasakan kewalahan yang luar biasa, kurang jam tidur, dan segenap masalah lain. Apabila mama mengalami hal-hal yang tak menyenangkan tersebut, jangan pernah melemparkan rasa frustrasi itu ke suami. Apalagi sampai menyalah-nyalahkan pasangan. Stop! Mulai sekarang mama dan pasangan harus melakukan segala hal secara bersama-sama. Jadilah tim yang kompak untuk mengatasi tantangan mengasuh si kecil.
  • Meluangkan waktu untuk pasangan. Menghubungkan tali romantisme dengan pasangan adalah hal yang penting, Mam. Tetapi jangan terlalu berlebihan dengan berpikir bahwa mama dan pasangan ingin kembali seperti dulu lagi. Pasalnya, kini sudah memiliki momongan. Luangkanlah waktu untuk pasangan seperlunya saja dan sesuaikanlah dengan situasi saat ini.

Kesimpulan

Pada dasarnya, baby blues dapat saja terjadi pada ibu mana pun. Meskipun baby blues dianggap hal yang wajar, tetapi jangan sampai meningkatkan risiko depresi secara berlebihan. Hal ini perlu kerja sama antara suami dan istri serta dukungan anggota keluarga yang lain. Selebihnya adalah kehadiran seorang bayi adalah mukjizat besar dan kebahagiaan yang tak terkira bagi sebuah keluarga.

Semoga artikel ini dapat membantu dan memperkaya informasi mengenai baby blues ya, Mam!
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment