Mam, Inilah Alasan mengapa Anak Berbuat Nakal!

Mam, Inilah Alasan mengapa Anak Berbuat Nakal!

Kecenderungan perilaku anak berbuat nakal tentu selalu memiliki alasan di baliknya. Mama tak perlu menghukum si kecil jika melakukan perbuatan yang buruk, lebih baik mama mencari alasan terlebih dahulu mengapa ia bisa berbuat seperti itu.

Mam, Inilah Alasan mengapa Anak Berbuat Nakal!
Sumber gambar: Pixabay/Bruloos

Mama harus tahu bahwa menghukum anak yang berperilaku buruk hanya dapat menghilangkan sikap itu di saat itu juga, namun tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya, Mam. Jadi, jangan pernah meluapkan emosi berlebih terhadap anak, apalagi sampai memarahinya. Itu tidak akan menyelesaikan masalah, Mam.

Karena itu, TemanMama.com akan merangkum beberapa hal yang terjadi umum pada anak yang berbuat nakal sekaligus cara untuk menghadapinya dengan baik.

1. Anak tumbuh semakin besar dan mandiri

Ketika si kecil tumbuh semakin besar, ia pun memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah pribadi yang berdiri sendiri atau tidak lagi menjadi bagian dari diri mama. Ciri-cirinya, ia mulai memilih baju yang pantas dipakai atau ketika bermain ke tempat tertentu tidak mau pulang.

Mungkin mama berpikir, si kecil semakin besar menjadi anak yang tidak penurut. Tapi sebenarnya tidak seperti itu, Mam. Pasalnya, kejadian seperti ini adalah peristiwa yang wajar yang menandakan anak mama tumbuh besar dan memiliki kemandirian.

Tips menghadapinya:

Mama harus tahu kapan harus mengalah terhadap sikap anak yang berubah. Misalnya, ia mulai menyukai kostum tertentu dari tokoh jagoannya, tidak ingin meminum dengan gelas pilihan mama karena ia menyukai gelas lainnya, atau si kecil mulai tidak mau diatur soal pilihan bajunya. Nah, jika ada yang bertanya: bukankah pemegang keputusan adalah orang tua? Memang benar, Mam.

Baca juga: Agar Anak Jadi Jenius, Saat Hamil Mama Wajib Konsumsi Makanan Ini

Namun mama tidak perlu mengurusi hal-hal yang sepele seperti itu. Justru mama harus memberikan kepercayaan pada si kecil atas pilihannya. Biarkan ia menentukan sendiri, jangan terlalu banyak diatur. Soalnya, latihan kemandirian ini bisa membuat ia di kemudian hari menjadi pribadi yang kukuh terhadap apa yang harus dipilih atau diputuskannya.

2. Anak jadi caper

Kiranya tidak ada anak yang tidak butuh perhatian, Mam. Hampir semua anak membutuhkan perhatian khusus dari orang tuanya. Hanya, terkadang, atau sering kali, mama mengabaikannya ataupun marah ketika si kecil mencari-cari perhatian. Mama harus catat bahwa berada dalam satu ruang bersama anak bukanlah berarti mama sudah memberi perhatian kepadanya.

Yang paling mengkhawatirkan adalah saat mama memperhatikannya saat si kecil berperilaku tidak baik, maka ia pun akan selalu melakukan tidakan buruk tersebut. Sebaliknya, apabila mama memberi perhatian yang tulus, maka si anak pun tidak akan melakukan perbuatan buruk tersebut hanya untuk mendapat kasih sayang atau perhatian dari mama.

Tips menghadapinya:

Mama bisa menghadapi anak yang caper dengan cara mendengarkan ucapan anak dengan proaktif. Karena itu, jika anak sedang berbicara, mama harus menyimaknya dengan baik, berhenti melakukan pekerjaan apa pun, tatap matanya sungguh-sungguh, dan tentu mendengarkan dengan antusias.

Namun jika mama tidak bisa meninggalkan pekerjaan ketika anak mengajak berbicara, maka katakanlah, misalnya, "Mama ingin sekali mendengarkan kisah kamu, Nak. Tunggu sebentar ya, mama harus menyelesaikan pekerjaan ini. Setelah itu, kamu ceritakan semuanya ke mama ya."

3. Pengaruh lingkungan

Pengaruh lingkungan memmiliki dampak yang cukup besar bagi perilaku anak mama. Ketika mama melihat perubahan karakter si anak tiba-tiba jadi lebih agresif, ada kemungkinan bisa disebabkan pengaruh apa yang ia sering lihat atau tonton.

Baca juga: Bagaimana Cara Mendidik Anak yang Benar? Baca Tips ini, Mam

Saat ini, anak-anak balita memang sudah tidak asing lagi dengan penggunaan gadget dan video Youtube. Mama harus memantau kembali rutinitas keseharian si anak. Selain dari video yang sering ia tonton, juga perhatikan lagi interaksi pergaulan dengan teman-temannya, Mam.

Tips menghadapinya:

Sebisa mungkin mama harus mengurangi paparan pengaruh buruk dari hal-hal yang mengubah perilaku anak menjadi tidak baik, Mam. Kalau misalkan video Youtube yang ditonton kurang bagus, mama bisa memilihkan dengan video lainnya. Kalau pengaruh buruk datang dari teman-temannya, mama bisa mengawasi ketika si anak bersosialisasi.

Namun, hal ini tidak bisa sepenuhnya mama lakukan ketika si anak sudah memasuki sekolah. Hanya, mama bisa mengurangi paparan buruk teman sebayanya dalam pergaulan di luar sekolah, misalnya, meminimalkan frekuensi bermain dengan anak tersebut atau bila perlu ajak anak tersebut bermain di rumah, sehingga mama bisa lebih mudah mengawasinya.

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar