Fakta Mengenai Kehamilan Ektopik yang Wajib Mama Ketahui

Fakta Mengenai Kehamilan Ektopik yang Wajib Mama Ketahui

Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur terbuahi di luar rahim atau di salah satu tuba fallopi yang menghubungkan ovarium dan rahim.

Pada sekitar 98% kehamilan ektopik, sel telur hanya melekat di tuba fallopi. Dalam medis, istilah “ektopik” itu berarti sesuatu yang berada pada tempat yang salah.

Kehamilan ektopik ini juga disebut kehamilan tuba atau yang lebih populer disebut kehamilan di luar kandungan.

Fakta Mengenai Kehamilan Ektopik yang Wajib Mama Ketahui
Sumber gambar: Pixabay/StockSnap

Dalam keadaan normal, sebelum sampai ke rahim, sel telur yang sudah terbuahi itu akan berada di tuba fallopi sekitar tiga hari.

Namun, untuk kasus kehamilan ektopik, embrio tersebut bisa menempel di tempat lain, seperti leher rahim, ovarium, atau rongga perut. Untuk mengenal lebih jauh kehamilan ektopik ini,

Mama harus perhatikan empat hal berikut ini, ya.

“Beberapa faktor pemicu kehamilan ektopik dapat dikurangi risikonya dengan mengubah pola gaya hidup.”

1. Beberapa penyebab

Penyebab yang paling lazim terjadi pada kehamilan ektopik adalah kerusakan tuba fallopi lantaran pernah mengalami peradangan.

Akibat kerusakan tuba fallopi ini, embrio yang akan menuju ke rahim jadi terhalangi, sehingga menempel di organ yang lain.

Selain itu, pemakaian alat kontrasepsi seperti spiral yang bertujuan mencegah kehamilan ternyata tidak mempan: kehamilan tetap terjadi.

Baca juga: Ketahui Yuk Perkembangan Bayi di Trimester Pertama, Kedua, dan Ketiga

Nah, amat mungkin kehamilan demikian bersifat ektopik. Penyebab lainnya, pengobatan masalah kesuburan juga berpeluang menyebabkan kehamilan ektopik.

Namun, jika sebelumnya Mama pernah mengalami kehamilan ektopik, hal ini bisa saja terulang kembali.

2. Kenali gejala-gejalanya

Kehamilan ektopik ini pada awalnya tak menunjukkan gejala-gejala yang mencurigakan. Akan tetapi, jika di lain waktu timbul gejala-gejala yang mengganggu, maka perlu segera ditangani dokter.

Di antaranya, nyeri di tulang panggul dan bagian bahu; perdarahan dari liang peranakan; sakit perut bagian bawah hanya di satu sisi; muntah, mual, dan lemas yang disertai rasa nyeri; dan rasa sakit di bagian rektum ketika buang air besar.

Gejala yang paling parah adalah sobeknya tuba fallopi yang menyebabkan perdarahan dan hilangnya kesadaran.

Jika Mama mengalami hal demikian, maka segera periksakan ke rumah sakit terdekat. Jangan pernah menunda-nunda karena bisa berakibat fatal.

3. Cara mendiagnosis

Setidaknya ada tiga cara untuk mendiagnosis kehamilan ektopik ini. Pertama, Mama dapat melakukan pemeriksaan pelvis ke dokter.

Di sini dokter bisa mendiagnosis embrio yang berkembang di tuba fallopi. Mama perlu tahu juga bahwa tes pelvis ini berguna untuk mengetahui ukuran rahim.

Dalam kehamilan normal, tentu saja ukuran rahim membesar. Sebaliknya, dalam kehamilan ektopik, ukuran rahim justru tidak membesar.

Kedua, melakukan tes ultrasound. Tes ini bertujuan mengetahui kondisi tuba fallopi dan rahim. Ketiga, mengecek darah untuk mengetahui kadar hormon.

Pasalnya, dalam kehamilan normal, kadar HCG naik setiap dua hari. Apabila terjadi kelainan dalam kadar hormon, hal ini mengindikasikan adanya kehamilan ektopik atau keguguran.

4. Cara pencegahan

Sebenarnya, kehamilan ektopik ini tidak bisa dihindari 100%. Namun, Mama bisa meminimalkan risikonya dengan mengubah pola gaya hidup dan cara ini cukup mudah karena bisa dilakukan sendiri di rumah.

Beberapa caranya antara lain melakukan "hubungan sehat" hanya dengan pasangan, selama masa pra-kehamilan berhentilah merokok, lakukan konsultasi ke dokter jika mengonsumsi obat-obatan di masa kehamilan, dan berkunjung ke dokter sesuai dengan jadwal.

Yuk, Mam, jaga kehamilan agar janin yang ada di dalam kandungan selalu!
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar